DLH Bandung Ungkap Sejumlah Penyebab Meluapnya Sungai Ciwidey

Struktur Organisasi

Saat terjadi hujan lebat, air di sungai Ciwidey dapat meluap dan bahkan mencapai pemukiman penduduk sekitarnya. Ini adalah masalah serius yang perlu ditangani untuk menghindari kerusakan dan banjir di daerah tersebut.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung, Asep Kusumah, sedang memantau terus-menerus penyebab meluapnya sungai Ciwidey beberapa waktu yang lalu. Menurutnya, banjir tersebut bukan akibat dari satu masalah saja, melainkan berbagai faktor yang perlu dicatat dan ditindak secara serius.

Menyadari pentingnya perlindungan lingkungan, BPBD sedang melakukan assesment terhadap situasi di sekitar kita. Ini adalah pelajaran berharga bahwa masalah lingkungan tidak hanya disebabkan oleh satu faktor, melainkan banyak hal yang harus diperhatikan. Asep, saat hadir di Peresmian Pondok Citarum ’92 di Desa Cimekar, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung membagikan pandangannya kepada detikJabar tentang masalah ini.

Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan banjir, seperti perubahan alam atau masalah-manajemen. Namun, hal ini pasti bukan sepenuhnya terkait dengan alam yang berubah fungsi sebagai penyebab utama.

Saat membicarakan masalah banjir, ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan. Selain luapan air dan air hujan yang meluap dari penampungan, perubahan penggunaan lahan juga bisa mempengaruhi kondisi. Oleh karena itu, kita perlu menilai secara komprehensif agar dapat menemukan diagnosis akurat dan solusi yang tepat. Jika tidak, maka solusi yang ditawarkan tidak akan mampu mengatasi masalah dengan segera.

Menurutnya, saat ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung sedang berusaha keras untuk menangani masalah sungai. Salah satu usahanya adalah dengan berkoordinasi dengan semua pihak yang terlibat.

Sebagai pemimpin daerah, Pak Bupati sangat peduli dengan penanganan masalah lingkungan. Beliau sering berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, seperti Perhutani, PTPN, dan BBWS. Salah satu prestasi yang telah ditunjukkan oleh Pak Bupati adalah normalisasi sungai sepanjang 12 kilometer di wilayah Timur tanpa menggunakan APBD. Hal ini dilakukan melalui pendekatan pentahelik yang terintegrasi dan efektif.

Asep mengungkapkan bahwa ada dua pendekatan yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah banjir. Dengan demikian, ia yakin bahwa kedua metode tersebut dapat mengatasi secara efektif masalah banjir.

Menurutnya, ada dua pendekatan yang bisa dilakukan dalam menghadapi masalah ini. Salah satu adalah pendekatan darurat untuk memperluas penampang air, sedangkan yang lainnya adalah pendekatan sistem melalui kebijakan dan implementasi yang melibatkan masyarakat serta semua komponen terkait.

Dia mengatakan bahwa cuaca saat ini sangat sulit diprediksi. Hujan bisa terjadi kapan saja dan di mana saja, menurutnya.

“Jika kita lihat musim sekarang, biasanya pada bulan Mei dan Juni cuacanya panas. Ini merupakan anomali. Biasanya musim panas berlangsung pada bulan Mei, tapi nanti juga akan ada hujan di akhir Desember,” kata dia.